1. Apa Itu Dexamethasone?
Dexamethasone adalah obat dari golongan kortikosteroid yang memiliki efek antiinflamasi (anti-peradangan), imunosupresif (menekan sistem kekebalan tubuh), dan anti-alergi. Obat ini merupakan bentuk sintetik dari hormon kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.
Dexamethasone digunakan untuk mengurangi peradangan, mengatasi reaksi alergi berat, dan mengobati berbagai penyakit, termasuk gangguan autoimun, kanker, dan edema otak.
2. Kegunaan Dexamethasone
Dexamethasone digunakan dalam berbagai kondisi medis, termasuk:
- Peradangan dan Autoimun: Arthritis, lupus, psoriasis, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
- Reaksi Alergi Parah: Anafilaksis dan alergi obat.
- Gangguan Endokrin: Mengganti hormon dalam insufisiensi adrenal dan mendiagnosis sindrom Cushing.
- Onkologi: Mengobati kanker seperti leukemia dan limfoma serta mengurangi efek samping kemoterapi.
- Edema Otak: Mengurangi pembengkakan otak akibat tumor atau cedera kepala.
- COVID-19: Mengurangi peradangan parah pada pasien dengan gagal napas akut.
- Hipotermia di Pegunungan: Meningkatkan kelangsungan hidup pada korban hipotermia berat, terutama di lingkungan ekstrem seperti saat mendaki gunung.
3. Dexamethasone untuk Korban Hipotermia Saat Mendaki Gunung
Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C, menyebabkan gangguan fungsi organ yang dapat berakibat fatal. Dalam kondisi ekstrem, seperti pendakian gunung di daerah bersalju atau berangin kencang, hipotermia dapat berkembang dengan cepat dan menjadi kondisi yang mengancam nyawa.
Bagaimana Dexamethasone Membantu Korban Pendaki Hipotermia?
Dexamethasone dapat digunakan dalam kasus hipotermia berat, terutama jika korban menunjukkan tanda-tanda edema otak atau gangguan kesadaran. Obat ini berfungsi untuk:
- Mengurangi peradangan di otak: Hipotermia berat bisa menyebabkan edema otak, yang berpotensi memperburuk kondisi korban.
- Membantu mencegah disfungsi adrenal: Dalam kondisi ekstrem, tubuh mungkin tidak mampu menghasilkan kortisol dalam jumlah cukup, yang dapat menyebabkan syok dan kegagalan organ.
- Mendukung sistem tubuh dalam kondisi stres ekstrem: Seperti pendakian di ketinggian ekstrem, di mana tubuh bisa mengalami edema paru atau edema otak akibat ketinggian (High Altitude Cerebral Edema/HACE).
Cara Penggunaan Dexamethasone pada Korban Hipotermia
Dexamethasone dapat diberikan dengan cara berikut:
- Dosis Darurat di Pegunungan:
- Dosis awal: 8–10 mg secara oral (tablet) atau injeksi intramuskular (IM).
- Dosis lanjutan: 4 mg setiap 6 jam sampai korban mendapatkan pertolongan medis yang lebih baik.
- Dalam Kasus Edema Otak Akibat Ketinggian (HACE):
- 8 mg diberikan segera (oral atau injeksi), diikuti oleh 4 mg setiap 6 jam sampai evakuasi berhasil dilakukan.
- Dexamethasone dapat membantu mengurangi pembengkakan otak dan mencegah penurunan kesadaran lebih lanjut.
- Jika Tidak Ada Opsi Injeksi:
- Gunakan tablet dexamethasone yang dihancurkan dan dilarutkan dalam air jika korban kesulitan menelan.
- Berikan melalui selang nasogastrik jika tersedia dan jika korban tidak sadar tetapi masih memiliki refleks menelan.
- Kombinasi dengan Teknik Pemanasan:
- Gunakan metode pemanasan pasif dan aktif: Selimuti korban, gunakan kantong tidur, dan berikan sumber panas seperti botol air hangat di area dada dan leher.
- Evakuasi segera ke tempat yang lebih hangat atau fasilitas medis terdekat.
4. Efek Samping dan Peringatan
Penggunaan Dexamethasone dalam kondisi darurat relatif aman, tetapi efek samping yang mungkin terjadi meliputi:
- Peningkatan kadar gula darah (berisiko bagi penderita diabetes).
- Gangguan pencernaan: Mual atau iritasi lambung.
- Gangguan suasana hati: Gelisah, insomnia, atau euforia sementara.
- Tekanan darah meningkat.
Dexamethasone sebaiknya hanya digunakan dalam situasi darurat, terutama jika evakuasi masih memakan waktu lama. Setelah korban diselamatkan, penanganan medis lebih lanjut sangat diperlukan. Obat yang sangat berguna dalam berbagai kondisi medis, termasuk peradangan, kanker, dan edema otak. Dalam kegiatan mendaki gunung, obat ini dapat digunakan dalam kondisi darurat hipotermia berat atau edema otak akibat ketinggian untuk meningkatkan peluang bertahan hidup. Penggunaan harus sesuai dengan dosis yang tepat dan dikombinasikan dengan metode pemanasan serta evakuasi segera ke tempat yang lebih aman.
Berikut adalah beberapa contoh Dexamethasone yang tersedia di apotik




Dexamethasone injeksi diberikan dengan cara parenteral, yang berarti melalui suntikan dan tidak melalui saluran pencernaan. Terdapat beberapa metode pemberian injeksi, tergantung pada kondisi pasien dan tujuan pengobatan.
1. Lokasi Penyuntikan Dexamethasone Injeksi
Dexamethasone dapat diberikan melalui beberapa rute penyuntikan berikut:
A. Injeksi Intramuskular (IM) – ke dalam otot
- Lokasi penyuntikan:
- Otot Deltoid (lengan atas) → Digunakan untuk dosis kecil.
- Otot Gluteus Medius (pantat/bokong) → Lokasi yang paling umum untuk injeksi IM.
- Otot Vastus Lateralis (paha luar atas) → Sering digunakan pada anak-anak atau jika lokasi lain tidak memungkinkan.
- Mengapa dipilih?
- Memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan injeksi subkutan.
- Cocok untuk dosis sedang hingga besar.
- Digunakan untuk pasien yang tidak bisa menerima obat oral.
B. Injeksi Intravena (IV) – ke dalam pembuluh darah
- Lokasi penyuntikan:
- Vena di lengan (antecubital fossa) → Lokasi paling umum.
- Vena di punggung tangan → Jika vena lengan sulit ditemukan.
- Kateter vena sentral (CVC) jika pasien kritis → Digunakan dalam kondisi darurat atau ICU.
- Mengapa dipilih?
- Efek sangat cepat karena langsung masuk ke aliran darah.
- Digunakan dalam kondisi darurat, seperti syok anafilaksis atau edema otak.
- Dosis dapat dikontrol dengan infus kontinu atau injeksi bolus.
C. Injeksi Subkutan (SC) – ke bawah kulit
- Lokasi penyuntikan:
- Perut bagian bawah (sekitar 5 cm dari pusar)
- Lengan atas bagian luar
- Paha bagian luar
- Mengapa dipilih?
- Digunakan jika pasien membutuhkan efek lebih lambat dan bertahan lebih lama.
- Jarang digunakan untuk Dexamethasone karena penyerapannya lebih lambat dibandingkan IM atau IV.
D. Injeksi Intraartikular (Ke dalam sendi) – untuk peradangan sendi
- Lokasi penyuntikan:
- Sendi lutut
- Sendi bahu
- Sendi pergelangan tangan atau kaki
- Mengapa dipilih?
- Digunakan untuk mengobati peradangan pada sendi akibat arthritis atau cedera.
- Efek lokal yang lebih kuat dibandingkan penggunaan sistemik.
2. Alat yang Digunakan untuk Pemberian Dexamethasone Injeksi
Beberapa alat yang digunakan dalam pemberian injeksi Dexamethasone meliputi:
A. Untuk Injeksi Intramuskular (IM) dan Subkutan (SC):
- Spuit (Syringe) 3–5 mL → Untuk menampung dan menyuntikkan obat.
- Jarum suntik ukuran 21G–23G, panjang 1–1,5 inci → Untuk menembus jaringan otot.
- Alkohol swab → Untuk sterilisasi kulit sebelum penyuntikan.
- Sarana pembuangan limbah medis (safety box) → Untuk membuang jarum setelah digunakan.
B. Untuk Injeksi Intravena (IV):
- Spuit 5–10 mL → Untuk injeksi bolus atau aspirasi darah sebelum injeksi.
- Jarum ukuran 18G–22G → Untuk injeksi langsung ke vena.
- Kateter IV jika infus diperlukan → Untuk pemberian obat dalam jangka waktu lebih lama.
- Infus set → Jika Dexamethasone dicampur dalam larutan infus (misalnya NaCl 0,9% atau Dextrose 5%).
- Plester medis dan perban → Untuk menutup area suntikan setelah injeksi.
3. Cara Penyuntikan Dexamethasone Injeksi
A. Cara Injeksi Intramuskular (IM):
- Cuci tangan dan gunakan sarung tangan steril.
- Siapkan spuit dan tarik dosis Dexamethasone sesuai resep dokter.
- Bersihkan area penyuntikan dengan alkohol swab.
- Tegang atau regangkan kulit di sekitar titik injeksi.
- Masukkan jarum dengan sudut 90° ke dalam otot dengan cepat dan stabil.
- Aspirasi (tarik sedikit plunger) untuk memastikan tidak masuk ke pembuluh darah.
- Jika tidak ada darah, suntikkan obat secara perlahan.
- Tarik jarum dengan cepat dan tekan area suntikan dengan kapas alkohol.
B. Cara Injeksi Intravena (IV):
- Siapkan peralatan, termasuk spuit berisi Dexamethasone.
- Temukan vena yang sesuai (biasanya di lengan).
- Bersihkan area dengan alkohol swab.
- Gunakan torniquet untuk memperjelas vena jika perlu.
- Masukkan jarum dengan sudut 15–30°.
- Aspirasi sedikit untuk memastikan jarum masuk ke dalam vena (akan terlihat darah).
- Suntikkan obat secara perlahan atau hubungkan ke infus jika diperlukan.
- Lepaskan jarum dan tutup dengan plester medis.
Dexamethasone injeksi dapat diberikan melalui injeksi intramuskular (IM), intravena (IV), subkutan (SC), atau intraartikular (ke dalam sendi) tergantung pada kondisi pasien. Lokasi penyuntikan yang umum adalah otot gluteus (bokong) untuk IM dan vena lengan untuk IV.
Alat yang digunakan meliputi spuit, jarum suntik ukuran yang sesuai, alkohol swab, serta peralatan tambahan seperti infus set jika diberikan secara IV. Penyuntikan harus dilakukan dengan teknik aseptik yang benar untuk mencegah infeksi dan komplikasi.
Dexamethasone injeksi sangat bermanfaat dalam kondisi darurat seperti reaksi alergi berat, edema otak, atau syok anafilaksis, tetapi harus digunakan dengan pengawasan medis.
Pemberian Dexamethasone Injeksi untuk Kasus Pendaki Gunung dengan Hipotermia
Dalam situasi pendakian gunung, hipotermia bisa menjadi kondisi darurat yang mengancam nyawa, terutama jika suhu tubuh turun drastis di bawah 35°C. Dexamethasone dapat digunakan dalam hipotermia berat atau jika terdapat komplikasi edema otak akibat ketinggian (HACE – High Altitude Cerebral Edema).
1. Lokasi Penyuntikan Dexamethasone untuk Korban Hipotermia
Dexamethasone injeksi dapat diberikan melalui injeksi intramuskular (IM) atau intravena (IV) tergantung pada kondisi korban dan ketersediaan alat medis.
A. Injeksi Intramuskular (IM) – Opsi Utama di Gunung
- Lokasi penyuntikan:
- Otot Vastus Lateralis (paha luar atas) → Pilihan terbaik karena mudah dijangkau di kondisi darurat dan memiliki otot besar untuk menyerap obat.
- Otot Deltoid (lengan atas bagian luar) → Bisa digunakan jika korban tidak memakai banyak lapisan pakaian tebal.
- Otot Gluteus Medius (pantat/bokong) → Bisa digunakan, tetapi sulit diakses dalam kondisi darurat di medan pegunungan.
- Mengapa IM lebih cocok di gunung?
- Mudah dilakukan di lingkungan tanpa fasilitas medis.
- Tidak memerlukan akses vena yang sulit dicapai pada korban hipotermia (karena pembuluh darah menyempit).
- Dapat dilakukan oleh pendamping dengan pelatihan dasar pertolongan pertama.
B. Injeksi Intravena (IV) – Jika Fasilitas Medis Tersedia
- Lokasi penyuntikan:
- Vena di lengan (antecubital fossa, seperti saat mengambil darah)
- Vena di punggung tangan
- Mengapa IV lebih sulit di gunung?
- Korban hipotermia biasanya memiliki vasokonstriksi ekstrem, sehingga vena sulit ditemukan.
- Memerlukan keterampilan lebih tinggi untuk memasukkan jarum ke dalam vena.
- Tidak praktis untuk kondisi darurat di lapangan.
Injeksi IM di paha (vastus lateralis) adalah metode terbaik untuk kondisi darurat hipotermia di gunung.
2. Alat yang Digunakan untuk Pemberian Injeksi
Untuk penyuntikan Dexamethasone di gunung, berikut alat yang diperlukan:
A. Untuk Injeksi Intramuskular (IM):
- Spuit (syringe) 3–5 mL – Untuk menarik dan menyuntikkan obat.
- Jarum suntik 21G–23G, panjang 1–1,5 inci – Cocok untuk penetrasi otot.
- Dexamethasone injeksi 4 mg/mL atau 8 mg/mL dalam ampul/vial.
- Alkohol swab – Untuk sterilisasi area suntikan.
- Sarung tangan medis (jika tersedia) – Untuk menjaga kebersihan.
- Kapas atau kain steril – Untuk menekan area suntikan setelah jarum dicabut.
B. Untuk Injeksi Intravena (IV) – Jika Fasilitas Medis Tersedia:
- Spuit 5–10 mL – Untuk injeksi bolus ke vena.
- Jarum IV (ukuran 18G–22G) – Jika diberikan melalui infus.
- Kateter IV dan cairan infus (NaCl 0,9%) – Jika tersedia.
- Plester medis dan perban – Untuk menutup area suntikan setelah injeksi.
3. Cara Pemberian Dexamethasone Injeksi untuk Pendaki dengan Hipotermia
A. Injeksi Intramuskular (IM) di Paha (Vastus Lateralis)
- Siapkan peralatan: Spuit, jarum suntik, alkohol swab, dan Dexamethasone.
- Sterilisasi area penyuntikan: Bersihkan paha luar atas korban dengan alkohol swab.
- Siapkan obat:
- Tarik Dexamethasone ke dalam spuit dengan dosis 8 mg awal (sesuai rekomendasi HACE/hypothermia berat).
- Masukkan jarum dengan sudut 90° ke dalam otot paha.
- Suntikkan obat secara perlahan (dalam 5–10 detik).
- Cabut jarum dengan cepat dan tekan area suntikan dengan kapas alkohol.
- Amankan korban dan lanjutkan penanganan hipotermia (pemanasan dan evakuasi).
B. Injeksi Intravena (IV) – Jika Bisa Dilakukan
- Cari vena yang terlihat di lengan atau punggung tangan.
- Sterilisasi area dengan alkohol swab.
- Masukkan jarum IV dengan sudut 15–30° ke dalam vena.
- Aspirasi sedikit (tarik plunger) untuk memastikan ada darah dalam spuit (tanda masuk vena).
- Suntikkan Dexamethasone perlahan atau hubungkan ke infus jika tersedia.
- Lepaskan jarum dan tekan dengan kapas steril
4. Dosis dan Manfaat Dexamethasone dalam Hipotermia
Dosis untuk Hipotermia Berat atau HACE:
- Dosis awal: 8–10 mg secara IM atau IV.
- Dosis lanjutan: 4 mg setiap 6 jam hingga evakuasi dilakukan.
Bagaimana Dexamethasone Membantu?
- Mengurangi peradangan dan edema otak: Jika hipotermia berat disertai edema otak akibat ketinggian (HACE).
- Menstabilkan respons tubuh terhadap stres ekstrem: Mencegah disfungsi adrenal yang bisa memperburuk kondisi korban.
- Membantu pemulihan kesadaran: Jika korban menunjukkan tanda-tanda gangguan neurologis akibat hipotermia.
5. Tindakan Tambahan Setelah Pemberian Dexamethasone
- Segera lakukan pemanasan aktif dan pasif:
- Bungkus korban dengan selimut termal atau kantong tidur.
- Gunakan botol air hangat di dada dan leher (bukan di kaki atau tangan).
- Hindari pemanasan langsung dengan api atau air panas.
- Berikan minuman hangat jika korban sadar.
- Evakuasi segera ke tempat lebih hangat atau fasilitas medis.
- Penyuntikan Dexamethasone untuk pendaki gunung yang mengalami hipotermia berat atau edema otak akibat ketinggian (HACE) paling efektif dilakukan dengan injeksi IM di paha (vastus lateralis).
- Dosis awal yang direkomendasikan adalah 8 mg, diikuti dengan 4 mg setiap 6 jam hingga korban bisa dievakuasi.
- Injeksi IV bisa dilakukan jika fasilitas medis tersedia, tetapi sulit dilakukan di kondisi darurat di gunung.
- Dexamethasone harus dikombinasikan dengan metode pemanasan yang benar dan evakuasi cepat untuk meningkatkan peluang korban bertahan hidup.
Artikel ini bersumber dari buku:
Mountaineering First Aid. A Guide to Accident Response and First Aid Care. FIFTH EDITION
High Altitude Medicine and Physiology. 3rd Edition
Medicine for The Outdoors. The Essential Guide to First Aid And Medical. Fifth Edition.
WILDERNESS MEDICAL SOCIETY. Practice Guidelines for Wilderness Emergency Care. Fifth Edition.
Sumber dari Googling internet terkait obat ini dan Hypothermia.
Note: Disarankan juga untuk konsultasi dengan dokter atau tenaga medis bersertifikat untuk penggunaan obat ini agar lebih tepatnya, karena background penulis bukan dokter, tulisan ini hanya mengacu pada sumber literasi diatas dan Googling.